• Home
  • Daerah
  • Ular Piton Berkeliaran di Kampung-kampung, Ngeri!
Minggu, 24 Juni 2018 | 11:39:46

Ular Piton Berkeliaran di Kampung-kampung, Ngeri!

Pesisirnews.com - Kejadian ular piton raksasa memangsa Wa Tiba (54) warga Desa Lawele Kecamatan Lohia Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara (Sultra), menghebohkan publik beberapa hari lalu.

Usai kejadian itu, kemunculan ular piton di pemukiman warga terus berlanjut hingga sepekan kemudian. Di antaranya di Desa Langkumapo, Kecamatan Napabalano pada 16 Juni, Desa Mantobua pada 17 Juni.

Sehari berikutnya, ular piton kembali ditemukan warga di tiga lokasi berbeda yakni Kelurahan Jompi di Katobu, Desa Masalili di Lohia dan Desa Bumbu di Pasir Putih. Selanjutnya pada 20 Juni warga Desa Liwumetingki, Kecamatan Pasir Putih kembali menangkap ular piton.

Rentetan peristiwa kemunculan piton tersebut menjadi topik terhangat. Teror ular ini benar-benar bikin geger. Tak hanya untuk masyarakat Muna dan Sultra pada umumnya, tapi juga nasional. Peristiwa itu, bahkan dikaitkan dengan berbagai mitos. Tidak sedikit pula yang berspekulasi tentang peringatan alam sebagai penyebabnya.

Kendari Pos (Jawa Pos Group) mencoba merangkum kejadian luar biasa tersebut. Peristiwa ular menelan manusia merupakan yang pertama kali terjadi di Bumi Sowite ini. Dari tujuh peristiwa (yang terkonfirmasi kebenarannya), kemunculan ular piton selalu terjadi di malam hari.

Hewan reptil itu keluar dari persembunyiannya di tengah hutan belantara kemudian menyasar pemukiman warga.

Semua informasi tentang kemunculan ular piton di beberapa lokasi di Muna sehingga bikin geger dibenarkan Awal, pawang ular sekaligus pegawai di unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Muna.

Menurutnya, ular sebenarnya termasuk hewan yang jarang bersentuhan dengan manusia. Hewan ini biasanya menghindar jika mencium aroma manusia. Mangsa yang paling dicarinya adalah babi hutan.

"Kalau di hutan seperti Warangga, wajar banyak ular karena habitatnya. Tapi kalau sudah sampai menelan manusia, itu luar biasa. Berarti ada yang salah dengan habitatnya," ungkap Awal, Jumat (22/6).

Kepala Bidang Lingkungan Hidup Muna, La Sahusu menduga, fenomena kemunculan piton diakibatkan ketidakseimbangan ekosistem alam di Muna. "Jelas karena kerusakkan lingkungan, meskipun itu bukan faktor tunggal. Ada ketidakseimbangan alam akibat ulah manusia sendiri," jelasnya, kemarin.

Penjelasan La Sahusu lebih detail dikemukkan oleh Unding, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah VI Muna. Ia mengatakan, ular piton sebenarnya bukan hal baru di Muna. Hanya saja, dia mengakui yang terjadi sepekan terakhir merupakan kejadian luar biasa, terlebih sampai merenggut nyawa.

"Kalau kami sering ketemu ular, tapi di hutan. Ada beberapa di pemukiman tapi sifatnya periodik. Beda dengan sekarang, seperti keluar sekaligus," katanya saat dihubungi, Jumat (22/6).

Unding menjelaskan, wilayah Muna memang merupakan habitat ular piton. Wilayah Muna yang terdiri dari bebatuan karst menjadi surga bagi piton. Peta sebaran ular piton sendiri, kata Unding paling banyak terdapat di kawasan hutan Lambiku, Napabalano, kawasan pekebunan di Lohia, kawasan kampung lama di Tongkuno serta di kawasan hutan di Lawa.

"Kalau pemetaan ular itu banyak di kawasan belakang Desa Mantobua hingga Kontunaga, terus di kampung lama dan di Napabalano. Termasuk di hutan warangga. Habitat aslinya di tempat itu," terangnya.

Lebih jauh Unding menjelaskan, dalam kondisi normal ular tidak akan keluar dari habitatnya. Kemunculan di pemukiman warga menandakan ular saat ini krisis rantai makanan. Ada beberapa faktor penyebab, diantaranya perburuan babi hutan yang marak terjadi.

Pemburu ilegal biasanya menangkap babi hutan untuk kepentingan bisnis. Hal itu memicu ketidakseimbangan rantai makanan ular.

"Babi hutan itu banyak diburu di wilayah Napabalano, Lawa dan kampung lama. Mereka jual di Manado, ada pengepul disini. Kebiasaan berburu itu yang bikin rantai makanan ular berkurang. Maka ular balik berburu di kebun dan pemukiman warga," tuturnya. 


Sumber jpnn.com 



BERITA LAINNYA
Merintih Saat Ditimpuk Batu, 3 Pocong Ditangkap
Senin, 16 Juli 2018 | 18:58:02
Kebakaran, Lansia Tewas Terpanggang di Rumah
Sabtu, 14 Juli 2018 | 10:41:11
BERIKAN KOMENTAR