• Home
  • Daerah
  • Kisah Eko dan adiknya terusir setelah rumah orang tuanya ditutup tembok tetangga
Selasa, 11 September 2018 | 21:01:10

Kisah Eko dan adiknya terusir setelah rumah orang tuanya ditutup tembok tetangga

Rumah di bandung tertutup tembok tetangga. ?2018 Merdeka.com/Aksara Bebey

Pesisirnews.com - Keluarga Eko Purnomo (37) terpaksa mengungsi setelah akses jalan menuju rumahnya tertutup bangunan lain. Pendekatan birokrasi yang ditempuh belum bisa menyelesaikan masalahnya.

Selama tiga tahun terakhir, Eko dan tiga adiknya sudah tidak menempati rumah yang berada di Kampung Sukagalih RT 05 RW 06, Kelurahan Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung.

Rumah peninggalan orang tuanya itu saat ini seperti dikepung oleh bangunan lain. Tidak ada jalan keluar masuk yang untuk mengakses rumah Eko yang berukuran 75 meter persegi. Jarak semua hunian di sekelilingnya bisa dibilang rapat dengan rumah. 

Dia menceritakan awal mula rumahnya terisolir itu terjadi sejak 2016. Saat dibangun rumah baru di lahan yang biasa menjadi akses keluar masuk rumah.

"Tahun 2016, ada warga datang membeli tanah yang berada di depan rumah. (Tanah) di samping rumah saya juga ada yang beli saat itu," katanya saat ditemui di daerah Kelurahan Pasanggrahan, atau berjarak dua kilo dari rumahnya, Selasa (11/9).

Di tahun yang sama, kedua pembeli tanah mulai membangun rumah. Otomatis, jalan yang selama ini dimanfaatkan sebagai akses keluar masuk tertutup.

Eko sempat berunding dengan pemilik lahan, warga dan aparatur kewilayahan setempat. Namun, saat itu solusi yang ditawarkan padanya dinilai memberatkan.

Dia diminta membeli lahan seharga Rp 120 juta untuk akses keluar masuk rumahnya. Dia sempat mengajukan penawaran Rp 10 juta namun ditolak.

Eko pasrah dan akhirnya angkat kaki dari rumahnya yang sudah dibangun tahun 1999. Dia dan adiknya tinggal terpisah. Eko masih tinggal di daerah Ujungberung dengan mengontrak rumah. Sedangkan adik keduanya di Tanjungsari. Adiknya yang terakhir masih di kawasan Ujungberung.

Sempat dia menyerah dan hendak menjual rumah di laman media sosial. Dia mendeskripsikan rumahnya itu dijual dengan harga di bawah NJOP dengan diberi penjelasan tak ada akses jalan.

"Saya tawarkan Rp 150 juta di bawah NJOP, tapi komentarnya malah caci maki enggak ada akses jalan," kata Eko.

Dari pantauan, pemukiman tempat rumah Eko berjarak satu kilometer dari alun-alun Ujungberung. Karena terisolasi, rumah eko pun sulit untuk sekadar dilihat kondisi terakhirnya.

Ketua RT yang enggan disebutkan namanya sempat menunjukkan bangunan depan rumah yang menutupi rumah Eko. Untuk melihatnya harus naik ke genting rumah warga lain.


Sumber Merdeka.com 



BERITA LAINNYA
99 kiai dari berbagai daerah akan hadir di halaqah II
Rabu, 14 November 2018 | 10:31:01
Amukan Babi Hutan Seorang Petani Tewas
Selasa, 13 November 2018 | 08:43:04
BERIKAN KOMENTAR