• Home
  • Mancanegara
  • Cinta Tidak Direstui, Remaja Ini Nekat Pesan Bom untuk Bunuh Orangtuanya, Ini yang Terjadi
Sabtu, 13 Januari 2018 | 15:37:55

Cinta Tidak Direstui, Remaja Ini Nekat Pesan Bom untuk Bunuh Orangtuanya, Ini yang Terjadi

Pesisirnews.com - Jatuh cinta memang perasaan yang bisa membuat orang bahagia.

Terlebih jika orang yang dicintai juga memiliki perasaan yang sama.

Namun, jatuh cinta juga bisa memberikan dampak buruk bagi mereka yang semakin lama menjadi semakin terobsesi.

Orang yang sedang dimabuk asmara seringkali melakukan hal tidak biasa tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT

Istilah cinta buta sepertinya cocok bagi remaja laki-laki yang berasal dari Wightwick, Wolverhampton, Inggris.

Randhawa ditangkap polisi setelah ia menerima paketan bom yang dipesan untuk membunuh kedua orangtuanya.
Randhawa ditangkap polisi setelah ia menerima paketan bom yang dipesan untuk membunuh kedua orangtuanya. (Mirror)

Gurtej Randhawa (19) berencana membunuh kedua orangtuanya sendiri lantaran tidak disetujui menjalin hubungan dengan kekasihnya.

Dilansir dari Daily Mirror, Sabtu (13/1/2018), Randhawa merencanakan pembunuhan tersebut supaya ia dan sang kekasih tetap bersama.

Sebelum sempat melancarkan rencananya, Randhawa ditangkap oleh polisi setelah menerima paket yang berisi perangkat untuk merakit bom jarak jauh pada Mei 2016.

Dalam pengadilan, Randhawa mengaku ia berencana membunuh orangtuanya setelah sang ibu mengetahui ia sedang menjalin hubungan dengan gadis yang tidak disetujui.

Khawatir orangtuanya akan mencoba mengakhiri hubungan mereka, Randhawa kemudian memiliki ide yang ia pikir akan membuatnya bisa bersama dengan sang kekasih.

Randhawa juga mengaku telah mencoba memesan Vehicle Borne Improvised Explosive Device (VBIED) atau bom mobil dari luar negeri.

Untuk menghindari deteksi, Randhawa menggunakan web khusus yang membuatnya tidak bisa dilacak.

"Alat peledak yang rencananya dibeli Randhawa secara online berpotensi menyebabkan kerusakan serius dan membunuh banyak orang jika ia berhasil menggunakannya," jelas Tim Gregory, Unit Operasi Angkatan Bersenjata NCA.

"Mengidentifikasi orang-orang seperti Randhawa merupakan prioritas NCA. Kami tidak akan berhenti dalam usaha untuk memastikan mereka ditangkap dan bertanggung jawab atas tindakan mereka," lanjutnya.

November 2017 lalu, Randhawa dinyatakan bersalah atas kepemilikan bahan peledak yang sengaja ia pesan untuk membahayakan kehidupan orang lain atau menyebabkan luka serius.

Jumat (12/1/2018), Randhawa ditetapkan menerima hukuman penjara selama 8 tahun setelah menjalani proses pengadilan di Birmingham Crown Court.

Sumber Tribun Pekanbaru 



BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR