Kamis, 1 Februari 2018 | 12:32:19

Trump Masukkan Inggris dalam Daftar Musuh AS

Foto : Sindonews.com
Pesisirnews.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tampaknya akan memasukkan Inggris dan lebih dari 100 negara sebagai "musuh Amerika" dalam pidato kenegaraannya di hadapan Kongres AS. Hal itu dipicu serentetan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Dengan menegaskan "hak kedaulatan" AS untuk mengambil keputusan itu, Trump menyesalkan bahwa miliaran dolar bantuan asing telah sampai ke beberapa dari 128 negara yang mendukung sebuah resolusi PBB yang mengecamnya pada bulan Desember.

"Uang itu seharusnya hanya pergi ke teman-teman Amerika, bukan musuh Amerika", kata Trump dalam pidatonya ke Kongres pada Selasa malam seperti disitir dari Independent, Rabu (31/1/2018).

Dia mengatakan: "Bulan lalu, saya juga mengambil sebuah tindakan yang didukung dengan suara bulat oleh Senat beberapa bulan sebelumnya - saya mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel."

"Tak lama kemudian, puluhan negara memberikan suara di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melawan hak kedaulatan Amerika untuk membuat keputusan ini," sambungnya.

"Pada tahun 2016, pembayar pajak Amerika dengan murah hati mengirim negara-negara yang sama lebih dari USD20 milyar untuk bantuan setiap tahun," tuturnya.

"Itulah sebabnya, malam ini, saya meminta Kongres untuk mengeluarkan undang-undang untuk membantu memastikan dolar bantuan luar negeri Amerika selalu melayani kepentingan Amerika, dan hanya pergi ke teman Amerika, bukan musuh Amerika," tegasnya.

Namun, dalam pernyataan berikutnya, dia mengatakan AS terus memperkuat persahabatan di seluruh dunia.

Keputusan Trump untuk secara resmi mengakui Yerusalem dan mengumumkan niatnya untuk memindahkan kedutaan AS di sana dari Tel Aviv menyebabkan aksi demonstrasi oleh para aktivis Palestina, yang mengakibatkan sejumlah kematian.

Menjelang pemilihan suara PBB duta besar AS untuk badan internasional tersebut, Nikki Haley, memperingatkan bahwa ia "mencatat nama" negara-negara yang memilih untuk mengutuk pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

"Saya ingin Anda tahu Presiden dan AS menyikapi pengambilan suara ini secara pribadi. Presiden akan mengawasi pemungutan suara ini secara hati-hati dan meminta saya melaporkan kembali kepadanya mereka yang telah memilih untuk melawan kami", katanya kala itu.

Ini bukan pertama kalinya Trump terlibat bentrok dengan Inggris. 

Setelah Theresa May mengkritik keputusannya untuk meretweet postingan Islamofobia oleh kelompok sayap kanan Britain First, Presiden AS mentweet bahwa May seharusnya tidak memusatkan perhatian kepadanya, namun pada Terorisme Radikal Islam yang merusak yang sedang terjadi di Inggris. "Kami baik-baik saja!" kata Trump.

Ketika keduanya bertemu di Davos minggu lalu, bagaimanapun, Trump mengklaim bahwa mereka memiliki "hubungan yang hebat". "Sama panjangnya dengan gelombang, saya pikir kami satu sama lain saling menghormati," imbuhnya.

Kunjungan Trump ke Inggris tampaknya kembali ke "kartu", setelah ia mengatakan tidak akan meresmikan Kedutaan Besar AS yang baru di Battersea karena terlalu mahal dan berada dalam "lokasi yang tidak tepat".

Para pemrotes telah menjanjikan demonstrasi besar-besaran saat kunjungan kenegaraan Trump pertama kali diperdebatkan pada 2017.

May adalah pemimpin asing pertama yang mengunjungi Trump di Washington setelah pelantikannya. Ia kemudian mengatakan bahwa dirinya optimis dan positif untuk masa depan dengan hubungan khusus tersebut. 

Sumber Sindonews.com


BERITA LAINNYA
Anwar Ibrahim Resmi Bebas dari Penjara
Kamis, 17 Mei 2018 | 08:59:58
Resmi! Mahathir Mohamad Menangi Pemilu Malaysia
Kamis, 10 Mei 2018 | 09:26:02
BERIKAN KOMENTAR