Rabu, 18 Juli 2018 | 22:28:50

Trump Menolak Sebut Rusia sebagai Musuh

Kompas.com

Helsinki, Pesisirnews.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak menyebut Rusia sebagai musuh utama "Paman Sam".

Penolakan itu diucapkannya dalam wawancara bersama jurnalis Fox News Tucker Carlson di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7/2018).

Diwartakan Newsweek Rabu (18/7/2018), saat itu Carlson mengajukan pertanyaan apakah Trump menganggap Rusia sebagai musuh utama AS.

"Saya tidak ingin memakai kata 'musuh'. Kita bisa bekerja bersama, dan menciptakan kehidupan penuh damai," tegasnya.

Secara tersirat, presiden 72 tahun itu mengaku heran dengan sikap para politisi yang ada di Washington.

Sebab, Negeri "Beruang Merah" itu telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap AS sehingga menang Perang Dunia II.

"Rusia kehilangan 50 juta rakyatnya dan membantu kita memenangkan perang," kata mantan presenter The Apprentice itu.

Trump melanjutkan, dia bukan merupakan pendukung Rusia atau pendukung kelompok manapun. Dia hanya ingin negaranya aman.

"Baik AS maupun Rusia mengontrol 90 persen nuklir dunia. Jadi, saya rasa bakal sangat baik jika bekerja sama," bebernya.

Wawancara di Helsinki terjadi ketika Trump melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kepresidenan.

Kunjungan bilateral pertama dua kepala negara itu kemudian memantik reaksi keras dari publik Negeri "Paman Sam".

Sebab, dalam konferensi pers bersama, Trump menyatakan dia memercayai Putin ketika bersikeras tidak terlibat intervensi Pilpres AS di November 2016.

John Brennan, mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA), mengatakan perkataan Trump bisa dikategorikan sebagai pengkhianatan.

Berbagai reaksi keras dari Washington membuat Trump membuat pernyataan klarifikasi sehari berselang (17/7/2018).

Dalam klarifikasi itu, Trump berkata bahwa yang dia maksud adalah dia tidak percaya jika Rusia tidak terlibat dalam Pilpres 2016.


Sumber Kompas.com 



BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR