• Home
  • Pekan Baru
  • Prihatin dengan sampah,Walikota Pekan Baru ikut gotong royong bersama masyarakat.
Sabtu, 12 Agustus 2017 | 12:05:28

Prihatin dengan sampah,Walikota Pekan Baru ikut gotong royong bersama masyarakat.

Pekan Baru,Walikota Pekanbaru DR. H Firdaus ST MT begitu kesal, prihatin, dan kecewa melihat permasalahan sampah di Kota Pekanbaru saat ini. Ia melihat sampah rumah tangga dan puing bangunan memenuhi aliran sungai Senapelan karena sikap hidup warga yang masih suka membuang sampah sembarangan. 

Sang Walikota pilihan rakyat itu ikut 'turpa' alias turun ke parit untuk membersihkan selokan dan aliran sungai. Nuraninya terpanggil untuk gotong royong bersama masyarakat.

Walikota lebih prihatin lagi ketika menemukan parit penghubung pemukiman warga dengan sungai sudah tertimbun tanah dan ditumbuhi pohon yang tingginya mencapai satu sampai dua meter.

Pemandangan yang tidak nyaman itu terjadi pada Kamis (10/08/2017), saat Walikota memimpin gotong royong massal bersama TNI, Polri, pemuda FKPPI, serta Camat dan Lurah di aliran sungai Senapelan Kelurahan Padang Terubuk, Kecamatan Sukajadi. 

Atas kondisi itu, Walikota yang langsung terjun ke sungai bersama seluruh peserta goro meminta Camat Lurah serta RW dan RT untuk selalu memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk peduli dan menjaga lingkungannya.

"Sampah dan puing bangunan ini tidak datang sendiri ke sungai ini. Sungai menjadi dangkal, daya tampung juga berkurang, sementara kawasan pemukiman sangat luas yang membutuhkan aliran sungai utama menuju sungai Siak atau Sungai Kampar. Di musim kemarau belum terasa  akibatnya, tapi ketika hujan turun, dalam sekejap  pemukiman dan rumah masyarakat akan tergenang air yang kita sebut banjir,'' ujar Walikota sambil ikut mengangkat dan mengeruk sampah dan puing bangunan  di sungai yang mengarah ke sungai Siak melewati jembatan Jalan Riau tersebut.

Tidak hanya sampah dan puing bangunan,  bahkan pecahan gelas dan piring juga banyak ditemukan di dalam sungai Senapelan tersebut, sehingga menyulitkan Walikota dan peserta goro membersihkannya.

"Coba kita tengok, dari pemukiman warga, ada beberapa parit dan drainase yang mengarah ke sungai utama, tetapi parit dan drainase di pemukiman warga ternyata tidak dibersihkan bahkan sudah tertimbun tanah dan sudah tumbuh semak dan pohon di dalam parit, sehingga parit-parit ini tidak mampu lagi menampung dan mengalirkan air dari  pemukiman warga ketika hujan. Akibatnya tergenang dan banjir walau hujannya cuma sebentar. Seharusnya parit dan drainase di pemukiman warga bisa dibersihkan secara rutin dengan semangat dan budaya gotong royong,'' ungkap Walikota lagi.

Memang masyarakat Kota seakan kurang peduli terhadap budaya gotong royong. Jalan Riau saja misalnya, sudah berpuluh tahun Putera Riau tinggal di area itu, setiap ada undangan gotong royong yang cuma 3 bulan sekali pun, banyak yang tak datang.

Pemilik atau peghuni ruko pun jarang muncul. Kalau pun ada, tentu sang pekerja ruko atau bawahan yang diutus, dan ini fakta yang terjadi bertahun-tahun.

Dengan bantuan sejumlah uang, banyak yang tak ikut gotong royong, bahkan seumur hidup. Tentunya ini merupakan kebiasaan jelek bagi warga kota.

Di akhir kalimat, Walikota cuma berpesan bahwa mulai dari saat ini untuk membiasakan hidup bersih. "Lingkungan yang kotor tentu akan memberikan akibat buruk yang tidak sedikit, mulai dari banjir hingga rentan penyakit demam berdarah,'' sebutnya. (rls/pr/zn).


BERITA LAINNYA
Firdaus Siap Ikut Bertarung di Pilgubri 2018
Minggu, 6 Agustus 2017 | 16:48:45
BERIKAN KOMENTAR