Minggu, 20 April 2014
SDM Petani Meranti Masih Rendah
Editor :eaf
Senin, 9 September 2013 | 22:50:28
SELATPANJANG (PNC) - Rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) petani membuat potensi yang besar di bumi Meranti tidak tergarap secara baik. Demikian yang disampaikan oleh Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Kepulauan Meranti, Asnawi Nazar, Minggu (8/9) kemarin di lokasi pertanian Semulut, Desa Banglas Barat. 
 
“Kita punya potensi pertanian yang cukup besar, namun sayangnya belum tergarap dengan baik. Lahan pertanian kita cukup luas dengan tingkat kesuburan yang baik. Kendala utamanya adalah kita rendahnya SDM petani kita,” sebut Asnawi. 
 
Jika pertanian digarap dengan baik oleh petani-petani yang handal dan memiliki SDM, menurutnya kebutuhan akan pangan, dan hasil holtikultura di Kabupaten Kepulauan Meranti bisa dipenuhi  sendiri tanpa perlu posokan dari daerah luar. Namun, ia tidak pula memungkiri, di beberapa wilayah, petaninya sudah mengalami peningkatan SDM. “Untuk beberapa wilayah kita lihat petaninya sudah cukup baik, misalnya di Gogok, Insit. Disana sudah bisa menghasilkan tanaman holtikultura yang cukup baik, namun dibeberapa wilayah masih banyak SDM petaninya masih kurang,” jelas Asnawi. 
 
Asnawi mencontohkan, petani di Semulut, Desa Banglas Barat yang masih rendah SDMnya. Kesulitannya adalah kebiasaan petani yang masih menggunakan pertanian tradisional. “Dari KTNA sendiri dan saya sebagai Kepala Desa di wilayah ini, telah mengupayakan agar petani ini sering mendapatkan informasi-informasi dalam bentuk apapun, baik langsung maupun tidak langsung,” ujar Sekretaris Banglas Barat ini. 
 
Kurangnya SDM petani ini, juga diakui Edi Sumantri SP, penyuluh pertanian di Desa Banglas dan Banglas Barat. Kebanyakan petani di daerah itu belum tau banyak mengenai teknik penanaman yang baik dan benar. Pola penanaman yang selama ini secara tradisional, hal ini membuat mereka memproduksi hasil pertanian kurang baik. 

“Misalnya, menanam tomat. Kita membetahukan, agar tomat dalam satu dahan cukup satu buah saja, jika ada lebih, maka dibuang, namun petani kadang sayang membuang tomat. Sehingga buah tomatnya tidak besar. Begitu juga dengan cabe, untuk buah pertama lebih baik dipanen muda saja, tapi petani terkadang tidak memahaminya sehingga cabenya membusuk,” beber Edi Sumantri.
 
Sementara, Menurut Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Irwan Nasir M,Si Persoalan yang paling berat membangun Meranti adalah merubah pola pikir masyarakat yang masih tradisional. Tidak hanya butuh waktu, tapi juga kesabaran, ketekunan dan kegigihan. Untuk itu, langkah terpenting yang harus dilakukan sekarang, bagaimana secara perlahan dan pasti bisa merubah sikap dan pola pikir masyarakat tradisional di perdesaan, agar lebih siap dan terbuka untuk mengadopsi program-program pembangunan.  

“Upaya ini dinilai bisa maksimal, karena Meranti butuh tenaga penyuluh yang benar-benar siap terjun ke lapangan, menjadi agen of change dan mendampingi masyarakat dalam melaksanakan transpormasi pembangunan,” katanya beberapa hari lalu.

Menurutnya Meranti  sebagai daerah yang sedang giat membangun dihadapkan dengan berbagai persoalan kemiskinan. Tidak hanya kemiskinan infrastruktur dan ekonomi masyarakat. Disisi lainnya, kualitas sumber daya manusianya juga, masih sangat rendah. Apalagi dengan kondisi rentang kendali antara kota dan pedesaan yang menjadi pusat aktifitas petani yang sangat jauh. Hal ini menyebabkan lambatnya proses adopsi program-program pembangunan.  

Sementara, rata-rata tingkat pendidikan formal para petani diberbagai pelosok pedesaan Meranti, hanya tamat sekolah dasar. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kemampuan tingkat adopsinya terhadap berbagai kebijakan pembangunan yang sifatnya masih baru. SELATPANJANG (PNC) - Rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) petani membuat potensi yang besar di bumi Meranti tidak tergarap secara baik. Demikian yang disampaikan oleh Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Kepulauan Meranti, Asnawi Nazar, Minggu (8/9) kemarin di lokasi pertanian Semulut, Desa Banglas Barat. 
 
“Kita punya potensi pertanian yang cukup besar, namun sayangnya belum tergarap dengan baik. Lahan pertanian kita cukup luas dengan tingkat kesuburan yang baik. Kendala utamanya adalah kita rendahnya SDM petani kita,” sebut Asnawi. 
 
Jika pertanian digarap dengan baik oleh petani-petani yang handal dan memiliki SDM, menurutnya kebutuhan akan pangan, dan hasil holtikultura di Kabupaten Kepulauan Meranti bisa dipenuhi  sendiri tanpa perlu posokan dari daerah luar. Namun, ia tidak pula memungkiri, di beberapa wilayah, petaninya sudah mengalami peningkatan SDM. “Untuk beberapa wilayah kita lihat petaninya sudah cukup baik, misalnya di Gogok, Insit. Disana sudah bisa menghasilkan tanaman holtikultura yang cukup baik, namun dibeberapa wilayah masih banyak SDM petaninya masih kurang,” jelas Asnawi. 
 
Asnawi mencontohkan, petani di Semulut, Desa Banglas Barat yang masih rendah SDMnya. Kesulitannya adalah kebiasaan petani yang masih menggunakan pertanian tradisional. “Dari KTNA sendiri dan saya sebagai Kepala Desa di wilayah ini, telah mengupayakan agar petani ini sering mendapatkan informasi-informasi dalam bentuk apapun, baik langsung maupun tidak langsung,” ujar Sekretaris Banglas Barat ini. 
 
Kurangnya SDM petani ini, juga diakui Edi Sumantri SP, penyuluh pertanian di Desa Banglas dan Banglas Barat. Kebanyakan petani di daerah itu belum tau banyak mengenai teknik penanaman yang baik dan benar. Pola penanaman yang selama ini secara tradisional, hal ini membuat mereka memproduksi hasil pertanian kurang baik. 

“Misalnya, menanam tomat. Kita membetahukan, agar tomat dalam satu dahan cukup satu buah saja, jika ada lebih, maka dibuang, namun petani kadang sayang membuang tomat. Sehingga buah tomatnya tidak besar. Begitu juga dengan cabe, untuk buah pertama lebih baik dipanen muda saja, tapi petani terkadang tidak memahaminya sehingga cabenya membusuk,” beber Edi Sumantri.
 
Sementara, Menurut Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Irwan Nasir M,Si Persoalan yang paling berat membangun Meranti adalah merubah pola pikir masyarakat yang masih tradisional. Tidak hanya butuh waktu, tapi juga kesabaran, ketekunan dan kegigihan. Untuk itu, langkah terpenting yang harus dilakukan sekarang, bagaimana secara perlahan dan pasti bisa merubah sikap dan pola pikir masyarakat tradisional di perdesaan, agar lebih siap dan terbuka untuk mengadopsi program-program pembangunan.  

“Upaya ini dinilai bisa maksimal, karena Meranti butuh tenaga penyuluh yang benar-benar siap terjun ke lapangan, menjadi agen of change dan mendampingi masyarakat dalam melaksanakan transpormasi pembangunan,” katanya beberapa hari lalu.

Menurutnya Meranti  sebagai daerah yang sedang giat membangun dihadapkan dengan berbagai persoalan kemiskinan. Tidak hanya kemiskinan infrastruktur dan ekonomi masyarakat. Disisi lainnya, kualitas sumber daya manusianya juga, masih sangat rendah. Apalagi dengan kondisi rentang kendali antara kota dan pedesaan yang menjadi pusat aktifitas petani yang sangat jauh. Hal ini menyebabkan lambatnya proses adopsi program-program pembangunan.  

Sementara, rata-rata tingkat pendidikan formal para petani diberbagai pelosok pedesaan Meranti, hanya tamat sekolah dasar. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kemampuan tingkat adopsinya terhadap berbagai kebijakan pembangunan yang sifatnya masih baru. (swl/anje)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.pesisirnews.com
Share |
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!