Blokade Reuni 212

Haikal Kamis, 06 Desember 2018 19:53 WIB

Suparto Wijoyo

Loading...

Oleh:Suparto Wijoyo*

BERIRING dan bersinggungan waktu dengan Reuni Akbar 212 di Monas, 2 Desember 2018, terjadi pemberondongan warga negara yang tengah mengerjakan proyek di Papua. 1 Desember 2018 di beberapa titik negeri memang tersorot sebagian orang Papua merayakan inginnya untuk merdeka. Sebuah keinginan saat mengenang tentang apa yang dinamakan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka. 20 orang tewas dan belasan lagi masih perlu perawatan untuk memulihkan kondisinya yang selamat dengan "aksi pura-pura mati". Tindakan OPM yang sering didengar sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata jelas dengan terang anti NKRI, anti Pancasila, anti Persatuan dengan kebhinnekaannya Indonesia, hingga pastilah terkualifikasi radikal, teroris dan berjuluk kaum separatis. Inilah yang mestinya ditangani serius untuk dilakukan "pembinaan" agar kembali ke pangkuan NKRI atau negara bertindak nyata menunjukkan daulatnya dengan melakukan penumpasan atau bahasa halusnya pembubaran kerumunan pemberontak.

Teriakan untuk merdeka itu harus diingatkan kembali atas sikap NKRI selama ini kepada mereka dan bergabungnya Papua atau Irian Barat kepada Indonesia. Historiografi 1969 memberikan pekabaran telah ditempuhnya jalan demokrasi yang berjuluk Pepera alias Penentuan Pendapat Rakyat. Pepera ini sehaluan sebagai referendum untuk menentukan sikap apakah mereka ada dalam dekap kasih sayang NKRI ataukah tetap di ketiak kolonialisme Belanda. Persiapan yang dihelat sejak 24 Maret 1969 sampai dengan 24 Agustus 1969 itu dengan hasil yang diterima PBB melalui Sidang Umumnya tanggal 19 November 1969: menyawijikan diri dengan NKRI.

Dalam lingkup ini warga Irian Barat resmi memilih untuk bersatu membangun diri bersama-sama dengan saudara-saudaranya di NKRI. Apalagi di tanah Papua sejak mulanya memang telah berdiri empat Kesultanan Islam sejak zamannya Kerajaan Samudra Pasai ataupun Kesultanan Ternate Tidore. Apaliba perspektif ini yang dijadikan rujukan kebangsaan maka semakin tampak bahwa Papua yang dalam terminologi kesultanan juga bernama Nuu Waar. Inilah cahaya permulaan yang memancar dari ujung timur Nusantara.

Kisah-kisah Nuu Waar akan semakin "membungakan hati" dengan bukti-bukti kesejarahan Islam di Papua melalui peninggalan yang sangat historis berupa mushaf Alquran yang tersimpan di Kerajaan Patipi sejak 1224. Menurut keterangan Raja Patipi ke-16, Islam masuk ke Indonesia abad ke-7 oleh Syekh Abd Rauf, putra ke-27 dari Syekh Abd Kadir Jailani di Kerajaan Pasai. Pada abad ke-12 Syekh Abd Rauf mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah agar melakukan perjalanan dakwah ke Nuu Waar. Rombongan itu pun tiba pada tanggal 17 Juli 1224 M di Messia atau Mes Kerajaan Patipi.

Biarlah hal ini akan menjadi pengkajian tersendiri oleh para ahli dengan penanda bahwa di Bumi Cenderawasih itu terhelat persaudaraan Islam yang menggelora sampai pada akhirnya penjajahan Belanda merusak tatanan. Bukankah memang sudah sewajarnya kolonialisme itu melakukan ekploitasi dan penghancuran peradaban sehingga membentur-benturkan struktur negara dengan Islam yang sisa-sisanya hingga sekarang ada.

Sikap curiga dan nafsu pecah bela pun masih saja terjadi sebagai langkah untuk meneguhkan bahwa perjuangan memang tidak pernah selesai. Oleh karena itulah mencintai NKRI dan menjaga persatuan itu tidak boleh berhenti sampai kapanpun jua. Itulah tugas muslim untuk keutuhan Indonesia nan damai. Dan Reuni Akbar 212 yang berlangsung di Monas Jakarta itu secara obyektif telah membuktikan diri betapa umat Islam sangatlah mencintai negeri ini.

Pesertanya ternilai memiliki tingkat keilmuan yang mumpuni tentang NKRI sehingga dia jaga seluruh kekayaan persatuan negeri ini. Keragaman sesama warga negara, dan tuntutan mereka tidak disuarakan dengan "radikal" atas rasa perih yang dirasakan selama ini, karena masih percaya bahwa penguasa memiliki nurani untuk merenungkan arti dirinya. Apa sejatinya yang sedang terjadi sehingga puluhan juta orang bisa terpanggil untuk rela berkumpul dengan modal hasil menabung sejak setahun lalu sebagaimana dilakukan, sebut saja Kang Mamat Becak dan Cak Jamal Roti dari Jawa Timur. Mereka berdua berangkat dengan sangu dari hasil mbecak yang ditabung hasil mbecak dan jualan roti, hanya dengan satu tekad ingin berkumpul sedulur.

Subhanallah luar biasa semua itu. Namun oleh media-media besar atau yang merasa besar hal itu dilihat penuh sinisme. Mereka tidak meliput secara proporsional, melainkan jumawah dengan memblokade tidak menghiraukan sebagaimana mestinya. Ada semacam "gerakan congkak" dari tivi dan koran seakan-akan berjuta orang itu dianggap tidak bermakna apa-apa bagi negara sehingga tidak pantas untuk diliput melalui media mereka.

Tivi dan koran mereka dinilai "akal waras" telah memblokade Reuni Akbar 212. Suatu pemblokadean yang justru membuka kesejatian dirinya yang takluk kepada kehendak yang tidak obyektif. Inilah potret media yang menihilkan karakter jurnalistik sejati. Suara dada dirinya terkuak betapa mereka sejatinya tidak simpatik dengan berkumpulnya jutaan orang yang penuh cinta sehingga rumput saja tidak terusik karenanya, serta sampah-sampah tidak ada yang berserakan.

Reuni ini menunjukkan kelasnya sebagai pembangun peradaban hebat yang saya saksikan. Monas selaksa Padang Arafah yang setiap jiwa menunduk menyujudkan diri hanya kepada-Nya. Inilah festival kebangsaan atas nama iman dan kemanusiaan dalam berbangsa dengan lantunan doa penuh hikmah. Sementara media yang tidak tersentuh untuk meluangkan "ruh jurnalistiknya" sejatinya sedang membangun karakter sekadar berhala peminta berkah kekuasaan semata. Itulah yang terekam dan medsos tampil sebagai "jurnalis yang mengalirkan berita selaksa air bah kejujuran": memberitakan apa adanya, dan bukan mewartakan yang ada apa-apanya.

* Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Sumber: duta.co

Tags PSSIPapuaPolriReuni212RohilTNIbangkinangsaid aqil

Berita Terkait

Komentar

Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.

FB Comments