Daerah

Penjelasan Kepala BPCB Sumbar-RIAU Terkait Penataan komplek Candi Muara Takus 2019.

admin admin
Penjelasan Kepala BPCB Sumbar-RIAU Terkait Penataan komplek Candi Muara Takus 2019.
loading...

Kampar, Pesisirnews.com - Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar Riau Nurmatias menjelaskan terkait Proyek Penataan Kawasan Candi Muara Takus,Kabupaten Kampar yang dikonfirmasi melalui telpon Selulernya,kamis 26/09/2019.


Beliau menjelaskan bahwa Kebijakan Perencanaan penataan kawasan Candi Muara takus diawali tahun 2015 yang lalu,berupa Pekerjaan kajian zonasi dan Pekerjaan pembagian ruang.ujarnya.


Sebagai Dasar hukum seperti yang di amanahkan oleh Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar budaya,untuk itu Output kajian tersebut adanya kawasan inti, penyangga dan pengembangan serta atau penunjang.Disamping pembagian kawasan juga dilakukan pembuatan draf regulasi ketentuan masing-masing ruang.jelasnya.


Di lanjutkannya,turunan kegiatan tersebut dilanjutnya dengan study adaptasi tahun 2016, Outputnya perencanaan kesesuaian antara objek, lingkungan, dengan pengembangan dan pemanfaatan candi sebagai cagar budaya yang merupakan aset budaya bangsa.


Kajian ini disamping penetapan tapak, juga dilaksanakan pembuatan Detail Enginering Desain (DED) serta Rencana Anggara Biaya ( RAB), SelanjutnyaKarena sudah ada DED dan RAB tahun2017 dan 2018,maka ditelusuri status tanah bekerjasama dengan Pemda Kampar dan dilakukan penetapan Citus Cagar muara takus sebagai Cagar Budaya dan penetapan zonasi.bebernya.


Sehubungan sudah ada penetapan CB dan zonasi, DED dan RAB pada kawasan inti akan direalisasikan 2019 dengan tahun usulan 2018,seluas lebih kurang 17 ha,dengan pagu anggaran7.9 Milyar pada Dipa BPCB Sumbar-Riau,ungkapnya.


Sampai tahun 2019 karena lahan belum kondusif, terutama pemililik lahan yang sudah Menganti rugi, tanah PLN yang ditanami masyarakat meminta ganti rugi tumbuhan, maka dilaksanakan perkiraan lahan yang tidak bermasalah Sekitar candi lebih kurang 3 ha dilaksanakan pembangunan fisik Senilai 1.7 Milyar, jelasnya.


Proyek tersebut adalah Materi pekerjaan penataan kawasan dengan uraian pembongkaran, pendestrian, pembuatan Sumur, biopori, penanaman rumput, dan tumbuhan rendah.


Hasil kajian adaptasi, Penyedia mengusulkan drainase tertutup berupa sumur dan biopori dengan alasan kalau drainase terbuka jika waktu curah hujan tinggi debit air sungai Kampar naik maksimal,Sedangkan dataran Candi Muara takus hampir sama tingginya dengan air sungai.


Seterusnya air sungai akan masuk kedalam komplek candi, bukan air dalam komplek candi mengalir keluar,Sehingga Terjadilah genangan air dalam jangka panjang, akan membuat bata lembab, mempermudah tumbuhnya tumbuhan lumut pada bata, dan peningkatan penggaraman pada musim kemarau.ulasnya.


Di tambahkannya,hal itu tidak memungkinkan air dialirkan ke sungai melalui drainase terbuka,

Maka dibuat perencanaan biopori, cuman karena pelaksanaan terbatas seluas 3 ha dari 17 ha, Kemungkinan serapan biopori terbatas.


Selanjutnya untuk mencegah genagan air, karna kondisi tanah serapanya agak rendah,Maka dibuat sumuran untuk mempercepat serapan air pada musim hujan. Drainase ini, alasan utama penataan kawasan inti, kalau air tidak dikendalikan, sedangkan drainase yang lama tidak efektif dan ditambah sudah tersumbat. Maka pembuatan serapan air perlu untuk disegerakan,jika dibiarkan tentu kondisi naiknya air tanah pada bata menyebab kelembaban pada bata, mempermudah tumbuhan lumut. Disamping lumutnya kering pada musim panas, merubah warna bata menjadi hitam, kalau dikonservasi hal ini tidak akan bertahan lama.


Selanjutnya Pembuatan biopori dan sumuran

Biopori, nanti ditutup, dan di atasnya akan ditanam rumput, sehingga biopori dan Sumuran tidak terlihat. Yang terlihat hanya hamparan rumput.tutupnya.(AM).

Penulis: admin