• Home
  • Daerah
  • Politisi Partai Soladaritas Indonesia(PSI) DPRD Kota Surabaya Buang Draf RAPBD

Politisi Partai Soladaritas Indonesia(PSI) DPRD Kota Surabaya Buang Draf RAPBD Kota Surabaya 2020

Saat Hearing Dengan Diskomifo Kota Surabaya
Haikal Sabtu, 09 November 2019 22:49 WIB
PESISIRNEWS.COM - DPRD dan Pemerintah daerah adalah mitra kerja untuk membangun kabupaten dan kota,keharmonisan antara exsekutive dan Legislative menentukan bagai mana pembangunan di suatu daerah berjalan,walaupun ada kritik dan saling koreksi haruslah ada agar pembangunan di daerah berjalan lebih baik,walaupun debat dan kritik haruslah dalam koridor kesopanan dan kepatutan.
Loading...
Sayangnya koridor kesopanan yang selalu ada di gedung DPRD Kota Surabaya sedikit terganggu. Hal ini dipicu oleh adanya insiden pembuangan Draft RAPBD Kota Surabaya 2020 pada hari Senin (4/11/2020).

Pembuangan Draft RAPBD Kota Surabaya ini dilakukan oleh politisi dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang bernama Alfian Limardi
Peristiwa pembuangan draft RAPBD Kota Surabaya ini terjadi pada saat hearing antara Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya (Diskominfo) dengan Komisi B DPRD Kota Surabaya. Pada kesempatan ini, Diskominfo Kota Surabaya diwakili oleh Kepala Dinasnya, Muhammad Fikser.

Pada saat itu semua anggota dewan dari Komisi B sedang memeriksa Draft Rancangan APBD Kota Surabaya untuk tahun 2020. Di tengah pemeriksaan tersebut, Politisi PSI Alfian Limardi tiba-tiba merasa ada yang salah dari perhitungan RAPBD tersebut.

"Awalnya saya melihat angka-angkanya. Itu kan ada banyak kolom-kolom. Pada kolom ke tiga ketika dikalikan harga yang keluar kok berbeda. Halaman yang pertama ok. Halaman yang kedua kok berbeda," jelas Alfian.

"Waktu itu, saya langsung menanyakannya, dan kelihatannya dia (M.Fikser) juga bingung. Saya spontan langsung marah dan melempar draft RAPBD Kota Surabaya itu ke meja," jelas Alfian.

Setelah dilempar ke meja, draft RAPBD tersebut langsung jatu ke lantai. Melihat hal tersebut Kepala Dinas Kominfo Kota Surabaya spontan juga ikut berdiri.

"Saya waktu itu sempat kaget ketika Alfian Limardi tiba-tiba membuang membuang draft RAPBD ke lantai. Waktu itu Alfian bertanya mengenai anggaran kegiatan, lalu saya jawab, nanti akan dijelaskan oleh staf saya, lha kok draft tersebut malah dilempar ke lantai"

Beberapa saat tampak M.Fikser bersitegang dengan politisi Partai PSI tersebut. Melihat Alfian Limardi berdiri, M.Fikser spontan juga ikut berdiri.

"Kamu yang ambil atau saya yang naik ke meja..!!!,' teriak M.Fikser kepada Alfian.

Melihat situasi yang mulai memanas, akhirnya Ketua Komisi B, Luthfiyah langsung mengetok palu dan menutup sesi hearing pada hari tersebut. Setelah acara di tutup, Alfian Limardi langsung pamit ke kamar kecil, namun setelah itu beliau tidak kembali lagi ke ruangan.

Di akhir acara Luthfiyah akhirnya meminta maaf kepada Kepala Dinas Kominfo Kota Surabaya. Namun permintaan maaf ini bukan mewakili yang lain, hanya atas nama Kepala Komisi B saja. "Saya setelah acara langsung meminta maaf kepada M.Fikser dan seluruh staf Pemkot Kota Surabaya," jelasnya..

M.Fikser dalam acara tersebut juga mengaku kecewa melihat sikap anggota dewan dari fraksi PSI yang membuang draft RAPBN Kota Surabaya ke lantai. Menurut orang nomor satu di Diskominfo Kota Surabaya ini, peristiwa tersebut adalah peristiwa yang baru pertama kali terjadi di Kota Pahlawan ini.

"Saya jelas kecewa, namun saya sudah memaafkan, meskipun dia tidak meminta maaf," jelas M.Fikser.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya Anas Karno, juga sangat menyayangkan terjadinya insiden pelemparan draft RAPBN tersebut. Beliau juga sempat menegur sikap dari Partai PSI ini yang dinilainya tidak ber-etika.
"Jadi kalau misalnya terjadi kesalahan dalam hal Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) RAPBD, mestinya bisa ditanyakan baik-baik, apalagi setelah di telaah RAPBD tersebut memang tidak ada yang salah," jelas Anas.
loading...
Menurut Anas, insiden ini terjadi karena para RKA-RAPBD tersebut tidak menyertakan adanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%. Namun, menurutnya hal tersebut sudah benar karena tidak semua harus ditulis di RAK.

"Jadi, saat itu kami semua sudah menyepakatinya dan sudah benar, namun entah mengapa Alfian Limardi tiba-tiba menilai hal tersebut salah, padahal beliau tidak bertanya terlebih dahulu, mengapa kok hasilnya bisa seperti itu. harusnya kan bisa ditanyakan dengan baik-baik,"

Tags Timnas Indonesiapolitik

Berita Terkait

Komentar

Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.

FB Comments