Hukrim

Kisah Cinta Sate Sianida Tak Dibalas ,Berujung Petaka

Pesisirnews.com Pesisirnews.com
Kisah Cinta Sate Sianida Tak Dibalas ,Berujung Petaka

Polisi memberikan keterangan terkait kasus satai beracun di Bantul. ©2021 Merdeka.com


PESISIRNEWS.COM - NA mengaku sakit hati lantaran tidak nikahi T. Hubungan antara keduanya terjalin saat T masih belum berkeluarga.

Sakit hati tersebut membuat NA gelap mata. Dia merencanakan aksi untuk meracuni T. Indikasi ini dibuktikan dengan NA telah memesan 250 gram racun berjenis Kalium Sianida di aplikasi jual beli online seharga Rp 224 ribu pada akhir Maret 2021.

"Motifnya sakit hati. Tersangka dan T pernah berhubungan dulu sebelum nikah. Target T sedang kita dalami. (Profesi target) Pegawai negeri," tutup Burkan.

Akibat perbuatannya NA dijerat dengan Pasal 340 KUHP subs Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76 C Undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 23 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukumannya, hukuman mati, penjara seumur hidup atau minimal hukuman 20 tahun penjara.

Sate Sianida Salah Sasaran


Seorang anak di Padukuhan Salakan, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon (Kecamatan) Sewon, Kabupaten Bantul, DIY, harus menjadi korban dendam cinta tak berbalas. N (10) meninggal dunia usai menyantap takjil berisi satai, lontong dan makanan ringan yang dibawa oleh sang ayah, Bandiman (47).

Paket takjil maut tersebut seharusnya tidak sampai ke tangan N. Karena paket tersebut ditujukan untuk PNS berinisial T.

Kisah pilu ini bermula pada 25 April 2021. Bandiman yang berprofesi sebagai ojek online tengah berada di sekitar Gayam Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Saat itu, dia dihampiri seorang perempuan untuk meminta bantuan.
Halaman :
Penulis: Pesisirnews.com

loading...