Life Style

Inggris Berencana Menangani Jumlah Orang Gemuk yang Semakin Meningkat

Anjar Anjar
Inggris Berencana Menangani Jumlah Orang Gemuk yang Semakin Meningkat

Ilustrasi : (Kredit Foto via askideas.com)

LONDON, Pesisirnews.com-Menurut Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson, jumlah orang gemuk di Inggris kini jauh lebih banyak daripada negara lain di Eropa kecuali Malta.


Melansir Associated Press (28/7/2020), Inggris pada hari Senin (27/7/2020), mengumumkan rencana untuk mengatasi meningkatnya obesitas di masyarakat yang dianggap bisa menjadi "bom waktu kegemukan," yang dapat meningkatkan resiko kesehatan.


Untuk menangani problem kegemukan, pemerintah akan melarang tayangan iklan junk food pada waktu tertentu, pembatalan penawaran "beli satu gratis satu" pada makanan tinggi lemak, dan mewajibkan seetiap produk makanan untuk memasukkan informasi jumlah kalori pada menu makanannya.


Selain larangan iklan sebelum jam 9:00 malam waktu setempat, pemerintah akan mengatur konsultasi tentang menampilkan jumlah kalori pada alkohol.


PM Johnson yang telah kehilangan berat badan sejak dalam perawatan intensif COVID-19, ingin mengatasi obesitas karena penelitian menunjukkan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit akibat virus corona dan menjadi penyebab kematian lainnya.


“Inggris jauh lebih gemuk daripada negara lain di Eropa kecuali Malta,” katanya.


Johnson menggambarkan obesitas sebagai “bom waktu” yang berdampak pada kesehatan sehingga akan menjadi prioritas dalam penanganannya.


"Menurunkan berat badan itu sulit tetapi dengan beberapa perubahan kecil kita semua bisa merasa lebih bugar dan sehat," kata Johnson dalam sebuah pernyataan.


"Jika kita semua melakukan bagian kita, kita dapat mengurangi risiko kesehatan kita dan melindungi diri kita sendiri terhadap virus corona saat ini, serta menghilangkan tekanan dari NHS (Layanan Kesehatan Nasional)," tambahnya.


Menurut data pemerintah, dua pertiga orang dewasa di Inggris berada di atas berat badan yang sehat, dengan kelebihan berat badan 36 persen dan obesitas 28 persen.

Penulis: Anjar

loading...