Politik

Dengan Gaya Politik Pura-pura Santun, AHY Dituding Kubu Moeldoko Bohongi Rakyat Indonesia

Anjar Anjar
Dengan Gaya Politik Pura-pura Santun, AHY Dituding Kubu Moeldoko Bohongi Rakyat Indonesia

Kolase Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Moeldoko. (Foto: Tribunnews)

JAKARTA, Pesisirnews.com - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) disebut telah membohongi seluruh rakyat Indonesia dengan gaya politik yang pura-pura santun dan merakyat.

AHY dianggap justru banyak berulang dan menyakiti hati orang lain. Mulai dari Presiden Jokowi, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, dan Menkumham Yasonna Laoly.

Demikian dikatakan juru bicara Partai Demokrat kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad, dalam keterangan tertulisnya, yang dikutip dari KOMPAS.TV, Kamis (25/11/2021).

“Jika dibuka lembar demi lembar catatan kami terkait AHY, banyak sekali ulah AHY yang menyakiti hati orang yang dituakan,” ucap Rahmad.

AHY, menurut Rahmad, pernah menuduh kudeta di Partai Demokrat yang dibekingi oleh orang dalam Istana.

Tuduhan itu tentu beralamat langsung kepada Presiden Jokowi. Sebab, hanya Presiden Jokowi yang menjadi atasan Pak Moeldoko.

“Kemudian AHY juga menuduh pemerintah terlibat kudeta Partai Demokrat,” ujar Rahmad.

“Hal itu telah membuat hati Pak Yasonna Laoly, Menteri Hukum dan HAM terluka, dan telah pula membuat hati Pak Mahmud MD, Menko Polhukam terluka.”

Tak hanya itu, AHY melalui juru bicara partai juga telah menuduh Ibu Megawati mengkudeta Presiden Gusdur.

“Meskipun kemudian pernyataan itu direvisi, namun itu jelas sangat melukai hati Ibu Megawati Soekarnoputri dan hati keluarga Gusdur yang sangat kita hormati,” katanya.

Bahkan kini, lanjut Rahmad, AHY mengungkapkan TNI yang seharusnya berada di wilayah netral terkesan ikut campur dalam politik praktis.

Rahmad menambahkan, sikap santun AHY juga bertolak belakang dengan kenyataan di Partai Demokrat.

Sebab, putra dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut justru bersikap tidak adil, bukan hanya kepada tokoh pendiri tetapi juga terhadap kader.

“Kepada senior-senior pendiri dan tokoh-tokoh utama awal Partai Demokrat berdiri, kepada kader-kader yang dipecat AHY dan yang diperlakukan AHY dengan tidak adil saat Pilkada,” beber Rahmad.

Atas hal tersebut, Rahmad pun menyarankan bahwa AHY untuk meminta maaf kepada sejumlah orang yang disakiti.

“Mulailah menyicil untuk minta maaf kepada Bapak Presiden Jokowi, kepada Presiden ke-5 RI Ibu Megawati Soekarnoputri, kepada Kepala Staf Presiden Bpk Jend. (Purn) Moeldoko, kepada Panglima TNI Bapak Jenderal Andika Perkasa,” ujarnya.

“Kepada senior-senior pendiri dan tokoh-tokoh utama awal Partai Demokrat berdiri, kepada kader kader yang dipecat AHY dan yang diperlakukan AHY dengan tidak adil saat Pilkada,” tambah Rahmad.

Halaman :
Penulis: Anjar

Editor: Anjar